Sekilas Tentang Fiqh Zakat


A. Pengertian Zakat

Zakat menurut etimology / bahasa mempunyai arti membersihkan atau bermakna pula tumbuh dan bertambah serta banyaknya kebaikan. Sementara makna zakat menurut fuqoha (ahli fiqh) yaitu suatu nama untuk banyaknya jumlah harta tertentu yang diberikan kepada golongan – golongan tertentu dengan syarat – syarat yang sudah ditentukan pula. Dinamai zakat di karenakan harta yang dizakatkan akan bertambah kebaikannya.

B. Dalil – Dalil Tentang Kewajiban Zakat

Banyak dalil – dalil yang menunjukkan kewajiban zakat, namun pada pembahasan ini akan diberikan beberapa dalil yang menunjukkan kewajiban zakat antara lain :

> Firman Allah Ta’ala :

خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بهاإن صلاتك سكن لهم.والله سميع عليم

Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu dapat membersihkan dan mensucikan harta mereka. Dan berdo’alah untuk mereka, karena do’amu akan membuat tenang jiwa mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (Q.S. At – Taubah : 103)

> Hadist Nabi ‘alaihis sholaatu wassalam dari Ibnu ‘Abbas Z bahwa Nabi ‘alaihis sholaatu wassalam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ‘anhu beliau bersabda :

إِنَّكَ تَأْتِيْ قَوْماً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَادْعُهُمْ إِلىَ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَأَنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لِذلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لِذلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِيْ فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لِذلِكَ فَإِياَّكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ اْلمَظْلُوْمِ فَإِنََّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Artinya :” Sesungguhnya engkau mendatangi kaum ahli kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tak ada yang patut di ibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwa aku ( Muhammad ) utusan Allah. Jika mereka menta’ati, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu sehari semalam. Maka jika mereka menta’ati juga, beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan shodaqoh ( zakat ) pada harta mereka yang diambil dari orang – orang kaya dan diberikan kepada orang yang miskin. Dan hati – hatilah kamu wahai Mu’adz terhadap harta yang mereka sayangi, serta takutlah kepada do’a orang yang terdzolimi, sesungguhnya tak ada hijab antara do’anya dengan Allah ( doanya terkabul ).

C . Macam-Macam Zakat Yang Wajib Dikeluarkan

Ada beberapa zakat yang wajib dikeluarkan, antara lain :
1. Zakat Binatang Ternak
2. Zakat Tumbuh-Tumbuhan
3. Zakat Rikaz (Harta yang tertimbun bumi)
4. Zakat Mal (Harta)
5. Zakat Emas & Perak
6. Zakat ‘Arudl At-Tijaroh ( yang termasuk dalam jual beli/perdagangan)
7. Zakat Fithri

Pembahasan kali ini menyoroti tentang zakat dari urutan no : 4 s/d no : 7, dikarenakan sulit didapati orang-orang yang memiliki binatang ternak dan tumbuh-tumbuhan di kota-kota besar seperti Jakarta, sebagaimana sulit didapati orang yang memperoleh harta yang terpendam dalam bumi (rikaz).

Catatan : No : 4 & 5 : Zakat Mal (Harta), Zakat Emas & Perak

Zakat mal (harta), emas & perak adalah diantara macam zakat yang wajib dikeluarkan, berdasarkan firman Allah Ta’ala :

خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بهاإن صلاتك سكن لهم.والله سميع عليم

Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu dapat membersihkan dan mensucikan harta mereka. Dan berdo’alah untuk mereka, karena do’amu akan membuat tenang jiwa mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (Q.S. At – Taubah : 103)

Dan firman Allah Ta’ala

والذين يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها في سبيل الله فبشرهم بعذاب أليم

Artinya : “ Dan orang – orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfakkannya dijalan Allah, maka beritahukanlah mereka, ( bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. “. (Q.S. At – Taubah : 34 – 35).

> Syarat-Syarat Wajib Zakat no : 4, 5, dan 6

Al-Imam Abu Bakr bin Muhammad Al-Husaini, salah seorang ulama dari madzhab Syafi’i mengatakan dalam kitabnya Kifayatul Akhyar tentang syarat – syarat wajibnya zakat antara lain :
1. Islam ( Seorang Muslim ).
2. Merdeka ( bukan seorang budak )
3. Kepemilikan penuh (hartanya ada padanya secara penuh, bukan tercampur dengan harta orang lain).
4. Mencapai Nishob ( batasan / takaran dari harta yang wajib dikeluarkan zakatnya )
5. Haul ( batasan waktu 1 tahun dalam mengeluarkan zakat ).

> Nishob Zakat Mal (Harta) = Nishob Zakat ( Emas dan perak )

Ketentuan nishob / batas minimal dikeluarkannya zakat mal (harta) adalah sebanyak 20 dinar / 85 gram emas (menurut pendapat yang lebih kuat). Maka jika seseorang mempunyai harta sejumlah (emas) minimal seberat 85 gram dan telah haul (mencapai satu tahun), maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 % dari harga 85 gram emas. Perhitungannya adalah : Jika diasumsikan harga 1 gram emas = Rp 360.000, maka 85 gram x Rp 360.000 = Rp 30.600.000 (Dua puluh satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah) , maka zakat yang dikeluarkan adalah : 2,5 % x 30.600.000 = Rp 765.000.

Adapun perak, maka nishobnya adalah 200 dirham ( 595 gram perak ). Perhitungannya adalah : Jika 1 gram perak = Rp 25000, maka harga 595 gram perak = Rp 25000 x 595 = Rp 14.875.000 (Empat belas juta delapan ratus tujuh puluh lima ribu rupiah). Jadi zakat yang dikeluarka adalah : 2,5 % x Rp 14.875.000 = Rp 371.875 .

Menurut pendapat jumhur ahli fiqh bahwa emas dan perak dapat digabung untuk dikeluarkan zakatnya, walaupun ketika dipisah keduanya tidak mencapai nishob. Gambarannya adalah : Jika seseorang memiliki emas seberat 80 gram dan memiliki perak yang jika diuangkan harganya mencapai 5 gram emas, maka pada saat itu seseorang wajib mengeluarkan zakat dari harga kedua barang tersebut. Demikian juga jika seseorang memiliki harta yang kurang dari nishob, dan mempunyai emas yang jika digabung dengan harta yang ada mencapai senilai 85 gram emas, maka wajib dikeluarkan pula zakatnya sebesar 2,5 %. Wallahu A’lam.

Catatan : yang dimaksud mal/harta adalah uang yang disimpan, di depositokan, atau diniagakan. Bukan harta berupa perlengkapan rumah seperti kulkas, kendaraan, atau lainnya, kecuali jika semua jenis itu di sewakan. Wallahu A’lam.

> No : 6 : Zakat ‘Arudl At-Tijaroh (Perdagangan)

Diantara yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah ‘Arudl At-Tijaroh / perdagangan atau segala sesuatu yang dapat diqiyaskan dengan perdagangan, berdasarkan firman Allah Ta’ala :

يَا أَ َيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ

Artinya : ” Wahai orang – orang yang beriman infaqkanlah dari sebagian usaha kalian yang baik “. (Q.S. Al – Baqoroh : 267 )

> Nishob Zakat ‘Arudl At-Tijaroh / perdagangan

Ketentuan nishob zakat perdagangan dikembalikan kepada nishob zakat emas yaitu 20 dinar/mitsqol ( 85 gram emas ). Jadi jika seseorang melakukan perdagangan dan telah mencapai haul, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 %. Perhitungannya adalah : Jika seorang pedagang membeli barang dagangan, kemudian berdagang selama 1 tahun, maka pada akhir tahun dia harus menghargai jumlah barang dagangannya + laba. Jika mencapai nishob, maka dia keluarkan sebanyak 2,5 % dari harga barang dagangan + laba tersebut.
Jelasnya : Jika seseorang memiliki modal senilai 85 gram emas, jika harga emas per-gram adalah 250 ribu, maka modalnya adalah 250.000 x 85 = 21.250.000, kemudian keuntungan dalam 1 tahun sebesar 10.000.000 , maka zakat yang harus dikeluarkan adalah : Jumlah Modal dan Untung/laba dikalikan 2,5 % yaitu : Rp 21.250.000 + 10.000.000 = 31.250.000 x 2,5 % = Rp. 781.250.

Catatan: Jika seseorang yang berdagang, pada modal awal belum mencapai nishob (85 gram emas), namun baru mencapai nishob setelah beberapa bulan berdagang, maka penghitungan haul ( batasan waktu 1 tahun dalam mengeluarkan zakat ), dimulai dari setelah modal mencapai nishob yaitu setelah beberapa bulan perdagangan tersebut (Menurut pendapat yang kuat –insya Allah–).

Diantara yang termasuk dalam zakat ‘arudl at-tijaroh adalah orang-orang yang memiliki usaha/niaga seperti kontrakan, karena kontrakan termasuk bagian dari jual beli (dalam hal ini sewa menyewa / ijaroh). Demikian juga orang – orang yang memiliki usaha seperti bengkel mobil, wartel, restoran, dan yang dapat dikaitkan / diqiyaskan dengan jual beli, dengan catatan mencapai nishob dan haul. Wallahu A’lam.

No : 7 : Zakat Fithri

A . Pengertian Zakat Fithri

Zakat secara bahasa/etimology adalah membersihkan (lihat pengertian zakat diatas). Sementara arti Fithri artinya berbuka (puasa). Ada juga yang mengartikan makna fithri dengan fithroh (jiwa). Adapun arti zakat fithri secara terminology atau istilah adalah zakat yang dikeluarkan sebagai pembersih jiwa bagi orang-orang yang berpuasa sekaligus sebagai makanan bagi para faqir miskin, sebagaimana sabda Rasululloh T :

(زَكَاةُ اْلفِطْرِ طُهْرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنَ الْلَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةٌ للِمَسَاكِيْنِ (رواه أبو داود

“Zakat Fithri sebagai pembersih orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin (H.R. Abu Daud)

B . Dalil Kewajiban Zakat Fithri

Zakat fithri juga salah satu zakat yang wajib dikeluarkan oleh orang yang memiliki kelebihan dari makanan pokok sehari-hari (beras, gandum, kurma, dll). Kewajiban zakat fithri berdasarkan firman Allah Subhana wa Ta’ala :

قد أفلح من تزكى

Artinya: Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya (Q.S. Al-A’la : 43)

Sebagian Ulama salaf mengatakan bahwa yang dimaksud zakat pada ayat diatas adalah zakat fithri.

Selain ayat diatas, kewajiban zakat fithri berdasarkan sabda Rasululloh shollallahu ‘alaihi wasallam :

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعاً مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعاً مِنْ شَعِيْرٍ عَلىَ الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَاْلكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ (رواه البخاري و مسلم وللفظ للبخاري

“Rasululloh shollallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri kepada budak, tuan (orang merdeka), laki-laki dan perempuan baik besar maupun kecil dari kaum muslimin sebanyak 1 sho’ dari kurma, atau 1 sho’ dari gandum (H.R. Bukhori & Muslim, lafadznya dari Bukhori).

C . Jenis dan Takaran Zakat Fithri

Adapun jenis yang dikeluarkan zakatnya menurut para ulama adalah makanan pokok suatu negeri. Bisa kurma, gandum, ataupun beras dan lain-lain tergantung makanan pokok suatu negeri. Sementara takaran yang wajib dikeluarkan adalah 1 sho’ , keterangannya adalah sebagai berikut :
1 sho’ = 4 Mud
1 Mud = dua telapak tangan orang dewasa.
Maka 1 sho’ = 8 telapak tangan orang dewasa

Namun zaman sekarang takaran tersebut tidak digunakan di Indonesia, maka takaran yang dikira-kira kan menurut ulama adalah 3,5 liter beras.

D. Kapan Zakat Fitri Dikeluarkan

Para Ulama bersepakat bahwa waktu yang paling utama di keluarkan zakat fitri adalah sebelum sholat Id dilaksanakan. Namun mereka berbeda pendapat tentang bolehkah menyegerakan mengeluarkan zakat fitri? Dalam hal ini, -sepanjang yang saya tahu- mereka mengatakan bahwa zakat ini terkait dengan ibadah puasa Ramadhan sebagaimana hadits Nabi :

(زَكَاةُ اْلفِطْرِ طُهْرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنَ الْلَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةٌ للِمَسَاكِيْنِ (رواه أبو داود

“Zakat Fithri sebagai pembersih orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin (H.R. Abu Daud)

Jadi zakat Fitri tidak di keluarkan kecuali pada saat setelah matahari akhir ramadhan terbenam, hanya saja di kalangan madzab syafi’iyyah membolehkan sejak awal ramadhan (-pendapat yang tidak kuat-pen.) Sementara dalam riwayat Ibnu Umar dikatakan bahwa zakat fitri dikeluarkan 1-2 hari sebelum berakhir Ramadhan.

saya berkata : Yang lebih baik adalah dikeluarkan zakat fitri setelah matahari akhir ramadhan terbenam, dan yang paling utama adalah sebelum sholat Id dilaksanakan, namun boleh juga di keluarkan 1 atau 2 hari sebelum berakhir ramadhan dan tidak di awal-awal ramadhan mengingat tidak ada riwayat yang menegaskan tentang hal tersebut. Wallahu ‘alam.

E. Mustahik (orang yang berhak menerima) Zakat Fithri

Para ulama berbeda pendapat mengenai mustahiq zakat fithri. Kebanyakan mereka berpendapat bahwa mustahiq zakat fithri sama dengan mustahiq zakat lainnya yaitu delapan golongan yang disebut dalam surat At-Taubah ayat 60 sebagai berikut :

1.Faqir yaitu orang yang tak mampu mencukupi k_ebutuhan mereka sehari – hari.

2.Miskin yaitu orang yang kebutuhan hidupnya sehari-hari sangat pas-pasan, meskipun ada pendapat yang mengatakan tak ada perbedaan antara faqir dan miskin dari segi keduanya termasuk orang – orang yang yang membutuhkan kebutuhan hidup namun tak mendapati sesuatu yang dapat mencukupinya.

3.Para ‘amil zakat ( orang – orang yang mengurus masalah zakat ) yang ditunjuk oleh pemimpin suatu negeri untuk mengumpulkan zakat dari orang – orang kaya.

4.Muallaf qulubuhum yaitu orang – orang yang baru masuk islam dan imannya masih lemah. Atau orang kafir yang ada harapan masuk islam jika diberi zakat.

5.Untuk memerdekakan budak termasuk didalamnya budak yang bisa dimerdekakan dengan membayar ( mukatab ).

6.Gorimin yaitu orang – orang yang terlilit hutang dan tak mampu melunasinya.

7.Fi Sabilillah / Untuk dijalan Allah. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dijalan Allah adalah berperang.

8.Ibnu sabil ( Musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan ).

Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa zakat fithri hanya untuk Faqir dan miskin berdasarkan sabda rasululloh hollallahu ‘alaihi wasallam :

زَكَاةُ اْلفِطْرِ طُهْرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنَ الْلَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةٌ للِْمَسَاكِيْنِ (رواه أبو داود

“Zakat Fithri sebagai pembersih (dosa) bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin (H.R. Abu Daud)

Dari hadits diatas ulama yang membatasi bahwa zakat fithri hanya diberikan kepada faqir dan miskin beralasan bahwa hadits ini mengkhususkan zakat fithri, adapun zakat yang lain boleh diberikan kepada 8 golongan diatas.

Saya berkata : Jika memang zakat fithri masih di mungkinkan di bagikan kepada para faqir dan miskin, maka merekalah yang harus di dahulukan dari 6 golongan mustahiq (selain faqir dan miskin) yang terdapat dalam surat At-Taubah ayat 60. Dengan kata lain, jika faqir miskin yang ada sudah terpenuhi / sudah menerima zakat fithri kemudian ada sisa dari zakat itu, maka zakat fithri dapat diberikan kepada 6 golongan diatas (selain faqir dan miskin). Wallahu A’lam bi As-Showab.

Catatan : Bagi para pengumpul zakat (‘Amil Zakat), hendaknya mendahulukan faqir dan miskin dalam membagikan zakat. Dan jika ada sisa dari zakat yang terkumpul, maka dapat dibagikan kepada selain faqir dan miskin yang termasuk golongan mustahiq zakat diatas.

Demikianlah Sekilas Tentang Fiqh Zakat sebagai tambahan pengetahuan tentang keislaman kaum muslimin, mudah-mudahan dapat bermanfa’at bagi kaum muslimin. Allahumma Amin. . . . . .

Dinukil dari berbagai sumber oleh :

Abu Nabil_CeRiNaLa

2 thoughts on “Sekilas Tentang Fiqh Zakat

    • Wa’alaikissalam…para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi 3 pendapat :
      1. Pendapat yang tidak membolehkan secara mutlaq, pendapat ini di ikuti sebagian syafi’iyyah dan mayoritas ulama saudi.Dalil mereka adalah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين
      “Zakat Fitri adalah pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, serta sebagai makanan bagi orang Miskin”
      Dari hadits ini para ulama yang berpendapat tidak boleh berdasarkan redaksi : serta sebagai makanan bagi orang Miskin, di samping itu mereka mengatakan bahwa pada zaman Rasul dan para sahabat juga sudah ada dinar dan dirham, akan tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan mereka zakat fitri dengan dinar/dirham.

      2. Pendapat yang membolehkan secara mutlaq. Pendapat ini banyak di ikuti kalangan Hanafiyyah. Mereka berdalil berdasarkan qiyas dengan zakat yang lainnya yang dapat di berikan dengan nilainya, bukan dengan barang dari zakat yang di keluarkan. misalnya : mengeluarkan zakat emas bisa dengan nilai/harganya dan bukan dengan emasnya / barangnya yang di zakatkan.

      3. Pendapat yang meerinci permasalahan yang ada. jika memang mustahiq sekiranya membutuhkan bahan makanan, maka pada saat itu zakat yang di keluarkan sebaiknya berupa makanan pokok suatu negeri. Sementara jika ternyata mustahiq lebih membutuhkan uang yang mungkin bisa di gunakan untuk membeli kebutuhan yang mendesak atau membayar hutang, maka zakat fitri dengan uang lebih utama.

      Saya berkata : Meskipun saya menjalankan zakat fitri mengikuti pendapat yang pertama,karena pendapat mayoritas. namun pendapat ketiga bisa di pertimbangkan jika memang keadaan membutuhkan untuk mengambil pendapat ketiga. Dan dalam masalah ini adalah perkara yang mudah dan tidak perlu di persulit sebagaimana maksud dari syari’at Islam itu sendiri. Wallahu a’lam bis showab…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s