Terimalah Yang Sedikit Dengan Penuh Syukur


Semua ketetapan taqdir manusia sudah tercatat di lauh mahfudz. Kelahiran, jodoh, kematian , dan lainnya, semua sudah di catat rapi oleh pena Allah Ta’ala. Begitupun harta yang merupakan salah satu bentuk karunia ( rizqi ) yang di berikan oleh Allah Ta’ala kepada makhluq – Nya yang bernama manusia. Seringkali kita mengeluh dengan keadaan kita yang serba kekurangan, dan merasa bahwa kita tidak pernah di beri kesempatan untuk menjadi orang yang mampu membeli apa yang kita inginkan.

Tetapi ada satu hal yang mungkin kita lupa, bahwa kita tidak dapat membeli kebahagiaan dan ketentraman hati dengan harta yang kita miliki. Pantaslah ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“ Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tapi kekayaan adalah kaya hati (bahagia)”

Betapa banyak orang yang saat ini memiliki harta berlimpah tapi tak bisa makan dan tidur dengan nyenyak, berapa banyak orang yang memiliki simpanan milyaran harus berhadapan dengan beragam masalah, mulai masalah hukum hingga yang lainnya seperti yang terjadi dengan para pelaku kasus korupsi. Berapa banyak orang – orang yang saat ini berbaring di tempat tidur rumah sakit mewah melawan sakit yang di derita bahkan terkadang melawan maut.

Sementara mungkin kita saat ini masih bisa makan setiap hari bersama keluarga, masih dapat menikmati istirahat malam, masih memiliki anak – anak yang menggemaskan, masih di beri kesehatan yang prima dan beragam ni’mat lainnya yang tanpa di sadari lebih berharga dari banyaknya harta.

Ada baiknya kita renungkan sebuah ayat dalam surat Thoha ayat 131 ketika Allah berfirman :

ولا تمدن عينيك إلى ما متعنا به أزواجا منهم زهرة الحياة الدنيا لنفتنهم فيه، ورزق ربك خير و أبقى

“ Janganlah pandanganmu senantiasa kepada orang – orang yang telah kami berikan ni’mat  kepada mereka bunga kehidupan dunia ( harta dsb ) sebagai bentuk ujian bagi mereka. Dan rizqi Allah (jannah) lebih baik dan lebih kekal.

Dan ada baiknya pula kita renungkan sebuah riwayat hadits qudsy (*) berikut :

إن من عبادي من لا يصلح إيمانه إلا الغنى ولو أفقرته لأفسده ذلك وإن من عبادي المؤمنين من لا يصلح إيمانه إلا الفقر وإن بسطت له أفسده ذلك وإن من عبادي من لا يصلح إيمانه إلا الصحة ولو أسقمته لأفسده ذلك وإن من عبادي المؤمنين من لا يصلح إيمانه إلا السقم ولو أصححته لأفسده ذلك

“ Sengguhnya diantara hamba-Ku ada orang yang tidak akan baik keimanannya kecuali dengan kekayaan, jika sekiranya Aku (Allah) buat dia faqir, maka kefaqiran akan membuatnya rusak (kufur). Dan diantara hamba-Ku yang beriman ada orang yang tidak akan baik imannya kecuali dengan kemiskinan, kalau sekiranya Aku jadikan dia bergelimang harta, maka hartanya justru akan membinasakannya, dan diantara hamba-Ku ada orang yang tidak akan baik keimanannya kecuali dengan kesehatan, kalau sekiraanya Aku buat dia sakit, maka penyakit itu akan membuatnya rusak, dan diantara hamba-Ku ada orang yang tidak akan baik imannya kecuali dengan suatu penyakit yang di deritanya, kalau sekiranya Aku sembuhkan dia, maka kesembuhan akan membuatnya binasa (rusak) “.

Mudah – mudahan kita menjadi hamba – hamba Allah yang senantiasa bersyukur dengan yang sedikit dan ridho terhadap segala keputusan dan ketetapan Allah yang terbaik menurut – Nya.

(*) Hadits ini terdapat dalam kitab Hilyatul Auliya dan di dho’ifkan oleh Al-Bani

Ditulis oleh : Abu Nabil_CeRiNaLa

2 thoughts on “Terimalah Yang Sedikit Dengan Penuh Syukur

  1. Assalamualaikum… Kak Cecep, Apa kabar?
    Ada yg ingin saya tanyakan tentang bab terimalah sedikit dg penuh syukur.
    Misalnya saya sudh mendapatkan pekerjaan yg tetap (mapan) tetapi dg gaji yg kecil. Krn kebutuhan ekonomi yg makin tinggi dan hanya bisa pas-pasn dalam mencukupinya.
    Lalu saya berpikir untuk mencari pekerjaan yg baru dengan gaji yg tinggi sehingga bisa mencukupi kebutuhan.
    Apakah saya bisa dikatakan tidak bersyukur?
    Mohon penjelaasannya. Terima kasih
    Wassalamualaikum

    Erfan

    • Wa’alaikassalam…alhamdulillah saya dalam keadaan baik..

      Berkaitan dengan pertanyaan antum, maka jawaban saya adalah sebagai berikut :
      1. Sudah menjadi fitrah manusia selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik dalam segala hal termasuk harta, dan itu tidak terlarang.
      2. Tulisan saya tentang terimalah yang sedikit dengan penuh syukur bukan melarang kita pindah dari satu tempat kerja ke tempat lain karena menginginkan profit yang lebih besar, itupun tidak mengapa…
      3. Maksud tulisan saya adalah jangan sampai kita mengeluh dengan rizqi yang telah di tetapkan Allah, tapi tetaplah bersyukur agar Allah tambahkan..karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, dan ini tidak menafikan agar kita tetap berusaha meningkatkan usaha dan do’a kita semaksimal mungkin agar apa yang sedikit kita terima namun penuh berkah, daripada banyak tapi tidak berkah…walaupun yang kita harapkan adalah banyak dan penuh berkah …:-)

      Wallahu a’lam bis showaab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s