Definisi Ibadah (Bagian 1)


Kata Ibadah ( عبادة ) itu jika kita lihat dikamus berbahasa arab, misalnya yang paling sederhana kamus Al-Mu’jamul Wasith المعجم الوسيط ) ), kata ibadah berasal dari tiga huruf : ‘ain, ba, dal yaitu ‘abada / dalam bahasa arabnya (عبد – يعبد – عبادة), yang kalau kita terjemahkan secara etimologi dalam bahasa Indonesianya disebut : ta’at, tunduk, lemah, dan hina. Itu arti dari kata ibadah secara etimologi. Lalu, apa sesungguhnya makna dan arti ibadah yang diinginkan pembuat syari’at (Allah) ? Disinilah para ulama beragam dalam mendefinisikan dan menyimpukan serta menetapkan definisi yang tepat untuk makna ibadah (menurut istilah syar’i). Maka saya mencoba untuk menukil beberapa definisi yang dikemukakan sebagian para ulama tentang definisi (istilah syar’i) dari kata ibadah. Berikut kutipannya :

  1. Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dalam kitabnya Addurur As-saniyyah, mendefinisikan ibadah sebagai berikut :

بأن العبادة هي التوحيد، لأن الخصومة فيه، وأن من لم يأت به لم يعبد الله؛ فدلَّ على أنَّ التجرد من الشرك لا بدَّ منه في العبادة، وإلاَّ فلا يسمَّى عبادة

 

Artinya : Bahwa Ibadah adalah Tauhid (meng-Esakan Allah), karena menentang tauhid, dan orang yang tidak bertauhid hakikatnya tidak beribadah kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa bersih dari syirik diharuskan dalam beribadah, karena tanpa tauhid, maka jika tidak bersih dari syirik tidak dinamakan ibadah.

 

  1. Dalam Kitab Al-Qowlus Sadiid fii bayaanit tauhid pengarangnya (Islam Mahmud Dirbalah) mendefinisikan ibadah sebagai berikut :

الانقياد والخضوع لله تعالى على وجه التقرب إليه بما شرع مع المحبة

Artinya : Keta’atan dan ketundukan kepada Allah Ta’ala, dalam rangka taqorrub (mendekatkan diri kepada-Nya) sesuai dengan yang disyari’atkan-Nya, disertai rasa cinta.

 

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah dalam kitabnya Majmu’ alfatawa, mendefinisikan ibadah sebagai berikut :

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأفعال الظاهرة والباطنة

Artinya : Suatu nama yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi Allah, baik berupa perkataan, perbuatan, yang nampak dan tersembunyi.

Saya berkata : Pada prinsipnya, sebagian definisi yang saya sebut diatas berbeda dari sisi lafadz, namun memiliki prinsip yang sama. Akan tetapi definisi Ibnu Taymiyah lebih komprehensif, yang nantinya akan saya jelaskan bahwa letak perbedaannya adalah dari sisi niat, karena yang saya katakan adat/kebiasaan bisa bernilai ibadah jika diniatkan dalam rangka ibadah, inilah yang masuk dalam pendefinisian ibadah oleh Ibnu Taymiyah. Dan saya akan jelaskan juga pembagian ibadah pada postingan selanjutnya, insya Allah…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s