Definisi Ibadah (Bagian 2)


Pada postingan sebelumnya (bagian 1), saya sudah menjelaskan tentang definisi ibadah yang saya nukil dari sebagian ulama, dan saya katakana juga bahwa definisi yang dikemukakan Ibnu Taymiyah lebih komprehensif mengingat definisi tersebut mencakup segala macam aktifitas hidup manusia. Pada postingan kali ini, saya akan mencoba menjelaskan pembagian ibadah menurut ulama. Baiklah para ikhwah kita perhatikan apa kata salah seorang ulama yang bernama Abdullah bin Abdil Aziz Al-Jibrin ketika membahas tentang pembagian/jenis ibadah? Beliau berkata dalam kitabnya : Tahdzib Tashil Al-aqidah Al-islamiyyah setelah menjelaskan definisi yang dikemukakan Ibnu Taymiyah sebagai berikut :

وهذا يدل على شمول العبادة، فهي تشمل :
Artinya : Dan ini (definisi Ibnu Taymiyah) menunjukkan komprehensifnya ibadah, yang mencakup :

أولا : العبادات المحضة : وهي الأعمال والأقوال التي هي عبادات من أصل مشروعيتها، والتي دل الدليل من النصوص أو غيرها على تحريم صرفها لغير الله تعالى.

Artinya : Pertama : Ibadah Mahdhoh (murni) : yaitu perbuatan dan perkataan yang memang merupakan ibadah dari asal/awal disyari’atkannya, dan perbuatan serta perkataan tersebut diharamkan oleh dalil / nash dan lainnya untuk ditujukan (ibadah tersebut) kepada selain Allah Ta’ala.

Saya berkata : Maksud dari perkataan Syaikh Al-Jibrin adalah bahwa yang namanya ibadah Mahdhoh adalah ibadah yang memang asalnya telah ditetapkan oleh pembuat syari’at (Allah) bahwa itu adalah ibadah, dan diharamkan ibadah tersebut ditujukan untuk selain Allah Ta’ala. Contohnya : Sholat, zakat, puasa, haji, membaca al-qur’an, jihad, menuntut ilmu syar’i, dsb. Wallahu A’lam.

ثانيا : العبادات غير المحضة : وهي الأعمال والأقوال التي ليست عبادات من أصل مشروعيتها، ولكنها تتحول بالنية الصالحة إلى عبادات.

Artinya : Kedua : Ibadah Ghoiru Mahdhoh (tidak murni ibadah) yaitu perbuatan dan perkataan yang memang bukan merupakan ibadah dari asal/awal disyari’atkannya, akan tetapi perbuatan dan perkataan tersebut dapat berubah (menjadi nilai ibadah) dengan niat yang baik.

Saya berkata : Maksud perkataan Syaik Al-Jibrin diatas adalah : Bahwa ibadah ghoiru mahdhoh adalah segala perbuatan dan perkataan yang asalnya bukan merupakan ibadah yang ditetapkan oleh pembuat syari’at (Allah), akan tetapi semuanya itu bisa bernilai ibadah disisi Allah ketika ada niat yang baik. Contoh : Memberi hadiah, makan, minum, tidur, jual beli, dan hal lain yang hukum asalnya dibolehkan. Wallahu A’lam.

Dari keterangan diatas, dapat kita simpulkan mana sesungguhnya yang merupakan hal-hal yang memang betul-betul ibadah murni, dan mana yang bukan, sehingga dalam menentukan suatu perbuatan manusia itu haram atau tidaknya bukan hanya berdasarkan bahwa perbuatan/perkataan itu tidak pernah dikerjakan generasi salaf. Karena kalau ketentuan boleh atau tidaknya suatu perbuatan didasarkan pada apa yang pernah dilakukan generasi salaf, maka akan banyak hal-hal yang hakikatnya tidak pernah dilakukan generasi salaf baik ibadah yang Mahdhoh ataupun yang ghoiru mahdhoh yang akan kita katakana haram atau bid’ah.

Saya ambil contoh : yaitu masalah garis-garis shof sholat yang ada di masjid-masjid sekarang ini, semua itu tidak pernah dikerjakan dan dibuat oleh generasi salaf (padahal ini adalah perkara sholat/ibadah mahdhoh), apakah kita mau katakana semua itu haram/bid’ah?

Contoh lainnya adalah apa yang terjadi di Saudi Arabia dengan apa yang disebut ‘Asyaaul waalidayn/ عشاء الوالدين yaitu kebiasaan orang-orang sana yang mengundang kerabat/tetangga serta memberi makan kerabat/tetangga yang diundang tersebut setelah satu bulan atau dua bulan kematian orang tua, maka hal ini di bolehkan oleh Syaikh Bin Baz, – walaupun ada ulama lain yang mengharamkan/membid’ahkan – padahal hal tersebut tidak pernah dikerjakan generasi salaf. Pertanyaannya adalah, kenapa Syaikh Bin Baz tidak mengharamkan atau membid’ahkan hal tersebut, padahal tidak pernah dikerjakan generasi salaf? Di waktu yang sama, beliau membid’ahkan maulid Nabi karena tidak pernah dikerjakan generasi salaf.?

Contoh yang lain : Menggunakan biji-bijian tasbih untuk bertasbih, Syaik Bin Baz, Utsaimin membolehkannya (padahal tidak dikerjakan generasi salaf), meskipun mengatakan sebaiknya menggunakan ruas-ruas jari. Namun, disisi yang lain Syaikh Al-Bany membid’ahkannya? Jika ada orang yang mengikuti syaikh bin baz atau utsaimin yang membolehkannya, sementara disisi lain ada yang membid’ahkannya, maka konsekuensinya adalah yang mengikuti Syaikh Al-Bani akan membid’ahkan yang mengikuti syaikh bin baz dan utsaimin – kalau tidak mau dikatakan membid’ahkan keduanya – Wallahu a’lam

Dan banyak sekali contoh lainnya yang membuat kita berfikir, apakah mengharamkan/membid’ahkan sesuatu itu hanya berdasarkan semata tidak pernah dikerjakan generasi salaf, atau memang disuatu Negara tidak menjadi kebiasaan/adat/tradisi, atau memang berdasarkan dalil-dalil syar’i yang memang terkadang mengandung banyak interpretasi sehingga terjadilah apa yang disebut khilaf/perbedaan diantara para ulama. Jika memang permasalahan yang ada hanya sebatas wacana masalah khilafiyyah atau diskusi saja, kita bisa maklumi. Namun, bagaimana jika wacana yang terjadi menyebabkan kita terjatuh kepada menuduh orang lain/ulama lain telah berbuat atau mendukung perbuatan yang haram atau bid’ah? Bahkan terjadi konflik berkepanjangan yang berakibat saling tuduh, bahkan mungkin saling menyesatkan dan mengkafirkan atau membid’ahkan, sehingga perpecahan ditubuh umat akan semakin sulit untuk dilerai atau didamaikan dan dicari jalan tengahnya atau jalan keluarnya, karena masing-masing mengklaim berada pada kebenaran dan lebih dekat kepada Al-qur’an dan As-Sunnah.

Inilah yang perlu kita fikirkan dan berhati-hati terhadap ungkapan atau tuduhan kepada orang lain atau sekelompok orang dengan tuduhan-tuduhan yang esensinya tidak akan merubah orang lain mengikuti kita (dan ini yang banyak terjadi), justru akan semakin menjauhkan mereka dari apa yang kita harapkan. Semoga semua ini menjadi renungan pribadi saya dan para ikhwah semuanya. Wallahu A’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s